Rabu, 04 Januari 2017

cerpen ujian praktik

Om Telolet Om
Karya : Regina Dyah Saraswati

            Akhir tahun 2016 dihebohkan dengan fenomena “ Om Telolet Om “ yang berasal dari bunyi klakson sebuah bis yang cukup unik dan  menghibur para pendengarnya. Dari anak- anak hingga orang tua mengenal istilah tersebut. Fenomena tersebut menjadi viral di berbagai kalangan bahkan hingga dunia internasional mengetahuinya. Disepanjang jalan banyak anak-anak menggunakan papan, kertas, bahkan spanduk bertuliskan “Om Telolet Om“. Saat ada bis pariwisata lewat dan membunyikan klaksonnnya mereka bersorak- sorai. Demam “ Om Telolet Om “ juga menjalar ke anak- anak Desa Bandongan, Magelang.
Teriknya matahari menyinari sepanjang Desa Bandongan yang hampir tak merasakan dinginnya udara. Aktivia masyarakat Desa Bandongan tetap berjalan seperti biasanya dengan peluh dimana-mana dan kulit yang semakin tampak menghitam. Seorang ibu yang akrab dipanggil Bu Janah sibuk menyapu halaman rumahnya tampak semangat tanpa menghiraukan panasnya sinar matahari.
“ Sri , tolong bantuin ibu mencabut rumput liar ini ! “ perintah Bu Janah kepada anak sulungnya.
“ Iya bu, “ jawab Sri dari dalam rumah.
Selesai membersihkan rumah sederhana mereka, Sri pergi keluar untuk membantu ibunya. Panasnya sinar matahari semakin menjadi- jadi terlihat dari baju ibunya yang basah karena keringat.
“ Panas sekali Bu hari ini, apa ibu tidak merasa panas dan lelah masih membersihkan halaman sampai siang begini? “
“ Ya panas to nduk . Habisnya mau bagaimana lagi halaman rumah kita sudah ditutupi oleh rumput- rumput ini. Apa kamu mau rumah kita yang sudah jelek ini semakin terlihat jelek?” keluh Bu Janah kepada anaknya itu.
Akhirya mereka selesai membersihkan halaman. Bu Janah tampak sangat lelah dan ia pun beristirahat di bangku bawah pohon mangga. Sri membawakan minum untuk ibunya dan beberapa camilan agar ibunya terasa segar kembali.
“Makasih Nak, ini terasa sangat segar sekali, “ ucap Bu Janah.
“ Iya Bu sama-sama,” jawab Sri.
“ Sri Masmu mana, kok dari tadi tidak kelihatan? “
“ Oh  Mas Didin, dia tadi bilangnya mau main di rumah Pak Ahmad sama si Jainal .”
“ Welah, Masmu itu sukanya kok keluyuran. Tidak tau apa kita capek-capek bersih – bersih rumah , tidak membantu malah main saja dipikirannya,” keluh Bu Janah terhadap perlakuan anak sulungnya itu.
Tidak terasa hari semakin sore, Didin belum juga pulang. Ia keasikan bermain gerobak sodor dengan teman – temannya. Bu Janah yang mengkhawatirkan anaknya itu, akhirnya menyusul Didin ke rumah Pak Ahmad.
“ Didin ayo pulang !!!!! Sudah mau mahgrib kok masih saja betah main,” teriak Bu Janah.
“ Sebentar lagi Bu, ini sudah mau menang mainnya,” bantah Didin.
            “ Sudah tidak usah banyak alasan ! Mbok yo liburan itu diisi dengan kegiatan yang bermanfaat seperti mengaji ,sholat di masjid, dan bantu – bantu bersih bersih rumah ! “ tegas Bu Janah.
            Sementara itu Sri sedang mempersiapkan makanan untuk mereka. Bu Janah ikut membantu Sri memasak. Mereka sedang memasak salah satu makanan khas Magelang kesukaan mereka, yaitu nasi goreng magelangan dan gethuk. Akhirnya makanan pun siap dan mereka makan bersama – sama.
            Selesai makan Bu Janah dan Sri menemani Didin yang sedang menonton televisi. Disaat yang sama semua siaran telvisi menayangkan tentang fenomena om telolet om. Didin pun diam – diam ingin merasakan kebahagiaan saat  mendengar klakson bus.
            Pagi- pagi buta Didin sudah bersiap- siap dengan membawa sebuah kertas karton besar bertuliskan om telolet om. Dia dan teman-temannya sudah janjian untuk mempraktikkan hal tersebut di jalan sekitaran Borobudur, karena banyak bus pariwisata yang lewat jalan tersebut. Pulang dari pasar Bu Janah bertanya kepada putrinya itu tentang keberadaan Didin yang dari tadi pagi tidak kelihatan batang hidungnya.
            “ Sri, Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” tanya Bu Janah.
            “ Mas Didin pergi bersama teman- temannya ke pinggir jalan raya dekat Kota Mungkid Bu. Katanya mau telolet , Bu,” jawab Sri.
            “ O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha , mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat,” keluh Bu Janah. 
            Akhirnya Didin pun pulang ke rumah dengan wajah penuh kebahagiaan. Ia masuk kerumah tanpa menyadari kalau ibunya sudah menunggunya dengan muka penuh kecemasan karena sikap anaknya yang nakal itu.
            “ Kamu dari mana le? Kok baru pulang, gak ingat rumah ya,” sindir Bu Janah.
            “ Saya habis main Bu di jalan, saya sama teman-teman main telolet Bu. Tadi saya sudah pamit sama Sri, “ jawab Didin dengan santai.
            “ Bukannya begitu, mbok yo kamu itu sekali-kali gak usah main yang aneh – aneh to. Diem di rumh mengaji, bantu – bantu ibu, atau balajar. Kan kamu sudah besar mbok yo jadi contoh buat adikmu itu,” ucap Bu Janah.
            “ Ibu tu kenapa sih sukanya banding- bandingin saya sama Sri, dia kan anak perempuan sudah sepantasnya dirumah bantu- bantu ibu. Lha, saya kan laki-laki bu, tidak masalah kalau saya main dengan teman- teman saya. Kalau saya dirumah nanti saya dikira banci,” jawab Didin dengan nada kemarahan.
            “ Kok kamu malah ngejawab sih le, ibu kan cuman menasihati kamu yang terbaik. Emang kalomengaji atau sembayang memandang jenis kelamin seseorang? Kamu tu gak mikir apa kalu kita khawatir sama keselamatan kamu? Kamu tu sukanya main yang bahaya- bahaya. Buat apa kamu main di jalan raya, ikut – ikutan telolet segala, itu kan tidak penting malah bikin kamu celaka nantinya.” ucap Bu Janah panjang lebar dengan nada kekesalan.
            “ Ibu itu selalu pilih kasih, tidak pernah sedikit pun mengerti aku, selalu saja belain Sri. Ibu selalu saja marah- marah sama aku, setiap aku main Ibu selalu bilang inilah itulah yang notabennya aku kalau main itu tidak ada manfaatnya. Kalau tau pulang – pulang jadi begini cuman bikin emosi, mendingan aku pergi saja dan bermain di jalan dengan teman- teman.” teriak Didin.
            Akhirnya Didin pun pergi meninggalkan Ibunya yang menangis mendengarkan ucapan anaknya itu. Bu Janah tidak bermaksud untuk memarahi Didin, ia hanya khawatir dengan keselamatan putranya. Akan tetapi malah mereka beradu  mulut dan menyebabkan Didin pergi dari rumah dengan penuh kemarahan dengan Ibunya.
            Masih dengan perasaan bersalah kepada putranya, Bu Janah hendak mencari didin ke tempat ia bermain telolet. Namun saat hendak keluar rumah Pak Ahmad berlari menuju rumahnya dengan muka penuh kepanikan. Pak Ahmad memberitahukan kepada Bu Jah bahwa Didin mengalami kecelakaan saat bermain di pinggir jalan, saat ini Didin sudah berada di Rumah Sakit Harapan. Bu Janah kaget mendengar hal tersebut, ia tak kuasa menahan tangis. Baru saja ia berantem dengan anaknya dan ingin meminta maaf malah mendengar berita mengejutkan tersebut.
            Bu Janah yang diantar oleh Pak Ahmad ke Rumah Sakit Harapan untuk menemui anaknya itu. Sesampainya disana tangis Bu Janah semakin kencang melihat anaknya terbujur kaku di ranjang rumah sakit dengan penuh luka.
            Dokter tersebut memberitahukan Bu Janah bahwa Didin mengalami pendaharan di otak dan mengalami koma saat ini. Selain itu hal yang paling mengejutkan yang hanya dapat menyelamatkan Didin adalah keajaiban dari Tuhan.
            Saat dokter menjelaskan kondisi Didin, suster memanggil dokter bahwa kondisi Didin menurun. Langsung saja dokter berlari bersama Bu Janah ke ruangan Didin. Layar pendeteksi jantung menunjukkan garis lurus. Langsung saja Bu Janah pingsan melihat hal itu. Ia tidak menyangka anak yang disayanginya pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Ia menyesal karena belum sempat meminta maaf dengan Didin soal pertengkaran tadi dirumah.
Hati Bu Janah sungguh sakit dan tidak dapat melakukan apa – apa saat mayat anaknya dibawa ambulans menuju rumahnya untuk dimakamkan. Sri pun ikut menangis di samping ibunya melihat mayat kakaknya itu. Semua warga Bandongan berdatangan untuk melayat.

Setelah kejadian yang menimpa Didin, tidak ada lagi anak-anak Desa Bandongan yang bermain telolet di jalan raya, karena masih trauma dengan kecelakaan yang menimpa Didin. Mereka akhirnya lebih waspada saat bermain agar kejadian tersebut tidak terulang kembali.   

Jumat, 11 November 2016

iklan


Iklan diatas termasuk dalam jenis iklan layanan masyarakat. 
Iklan tersebut memiliki arti yaitu mengajak semua orang untuk menyayangi alam khususnya pepohonan. Dengan adanya iklan tersebut diharapkan masyarakat semakin sadar betapa pentingnya memelihara dan merawat alam kita sendiri, dengan melakukan hal-hal kecil seperti melakukan reboisasi pada lahan yang tandus dan tidak menebang pohon dengan sembarangan. Menanam pohon dapat mmbantu pengurangan efek panas global, melindungi bumi dari panas matahari, serta pepohonan yang rindang dapat membantu menghasilkan oksigen yang segar dan baik utnuk manusia itu sendiri.

Makna atau simbol yang terkandung dalam iklan :
1.      Gambar awan
Makna à menggambarkan keaadan cuaca yang cerah tanpa adanya polusi.
2.      Gambar pohon
Makna à menggambarkan kehidupan alam yang harus dijaga.
3.      Tangan yang membawa pohon
Makna à menggambarkan rasa kepedulian masyarakat terhadap kondisi alam, khususnya lahan yang tandus.
4.      Gambar padang rumput dengan pepohonan
Makna à menggambarkan keindahan alam yang penuh dengan pepohonan.
5.      Warna biru pada awan
Makna à menggambarkan kecerahan bumi tanpa adanya kondisi alam yang rusak.
6.      Warna hijau pada pohon
Makna à menggambarkan kesuburan, kesejukan, dan keasrian alam maupun udara yang terjadi jika dijaga dengan baik.
7.      Warna hijau muda pada padang rumput
Makna à kemakmuran  dan kesejahteraan pepohonan yang rindang untuk menjaga kestabilan alam.
8.      Tulisan “ tanam pohon “ bewarna hitam
Makna à bermakna penegasan bahwa menanam ohon adalah tindakan yang sangat penting dan sangat bermanfaat agi bumi kita.
9.      Tulisan “ sejukkan bumi sayangi pepohonan untuk anak cucu kita “ berwarna hijau
Makna à bermakna kesejukan, kesuburan, dan kesejahteraan yang akan kita rasakan dan terima dengan adanya kesadaran untuk menanam pohon, hal itu juga dapat bermnfaatbagi anak cucu kita dimasa depanagar dapat menikmati alam hijau yang segar dan subur tanpa adanya lahan yang tandus dan kekeringan.
10.  Daun- daun yang berterbangan
Makna à kesegaran udara yang dihasilkan oleh pohon.
11.  Latar berwarn kuning
Makna à keindahan dan kelembutan dari hati semua orang yang peduli dengan alam.

Rabu, 26 Oktober 2016



Wanita Terhebat


            Erlina Sungkawati adalah ibu dari 2 anak. I sungguh disiplin dalam mendidik dan mengajari anaknya untuk selalu tepat waktu. Ia selalu memberika senyman kepada semua orang , bersikap loyal , dan selalu menerima dengan terbuka. Perjuangannya untuk menempuh pendidikan setinggi langit menjadi inspirasi bagi bnyak orang, khususnya kesua putirnya. Karakter yang sangat mencolok dari dirinya adalah rasa peduli dan khawatir terhadap orang lain, khususnya anak – amaknya. 
            Erlina Sungkawati lahir pada tanggal 25 Agustus 1969 di Kendal. Ia merupkan anak ke tiga dari empat bersaudara dari pasangan Sudarno Hadi dan Trimurni. Kedua orang tuanya bekerja sebagai seorang guru. Ia dan orang tuanya tinggal di Kampung Pugeran, Desa Bendosari, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal. Sejak kecil beliau dan keempat saudaranya sudah dilatih oleh rang tuanya rasa mandiri, disiplin, dan jangan mudah malas dalam menuntut ilmu. Meskipun berasal dari keluarga yang cukup mampu pada saat itu, ia tidak pernah hidup secara mewah dan hidup untuk prihatin terhadap keadaan.
            Diumurnya yang ke-6 tahun pada tahun 1975, beliau mulai masuk ke bangku sekolah dasar di SD Bendosari 2. Saat masih duduk di sekolah dasar, setiap berangkat sekolah diantar oleh ayahnya. Dengan penuh semangat mereka berjalan bersama, walaupun jarak dari rumah ke sekolah sejauh 2 km. Beliau dari rumah berangkat pukul 06.00 WIB  dan membutuhkan waktu 20 menit untuksampai disana. Orang tuanya memiliki cara unik untuk melatih hitungan dan mengingat angka. Setiap malam sebelum tidur, beliau dibiasakan untuk menghafal perkalian dari angka 1 sampai dengan 10 atau pelajaran yang telah diplajari tadi saat sekolah.hal itu yang membuat ia memiliki prestasi di sekolahnya.
            Setelah lulus dari SD, beliau melanjutkan sekolah ke bangku menengah pertama di SMP Negeri 1Tersono, Kabupaten Tersono. Memasuki bangku SMP tahun 1982 perjalanan menempuh sekolah cukup berat. Ia harus melewati 3 sungai yaitu sungai Lampir, sungai Bandung,dan sungai Belan serta melewati jembatan bambu yang sudah rusak. Jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh yaitu 10 km dan membutuhkan waktu 1 jam berjalan kaki. Jika hujan turun , ia harus menunggu hujan sampai reda, karena air sungai sedang deras. Terkadang sampai dirumah hari sudah malam. Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat.
            Lulus dari bangku SMP, ia dan ketiga saudaranya diajak pindah ke Magelang oleh kakak dari ibuny untuk menemani budhenya yang tinggal sendiri disana. Namun kedua orang tua beliau tidak dapat ikut ke Magelang, karena harus merawat ternak ayam dan sapi, serta mengurus sawah. Tahun 1984, ia mendaftarkan diri ke SMA Kristen 1 Magelang. Ia bertempat tinggal di Jln. Brigjen Katamso no. 2 Bayeman. Saat duduk dibangku SMA , ia masih saja berjalan kaki kesekolah seperti waktu tinggal bersama kedua orang tuanya.
            Selesai menempuh pendidikan di SMA, ia melanjutkan pendidikannya di IKIP Sanata Dharma dengan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menyelesaikan pendidikannya di perkuliahan selama 4 tahun dari tahun 1988-1993, ia mendapat gelar kumload.lulus dari bangku perkuliahan ia langsung mengajar di SMA Kristal Dili, Timor-Timor, dari tahun 1993-1999. Pada tanggal 8 Juli 1996 , ia menikah dengan I Wayan Balik Sura Atmaja di Gereja Katedral Dili. Beliau dikaruniai dua orang putri. Tnggal 29 Agustus 1997,ia melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Stefani Dewi Puspitasari. Tanggal 12 September 1998, ia melahirkan putri kedua yang diberi nama Regina Dyah Saraswati.
            Saat Timor-Timor mengalami jejak pendapat tahun 1999, Ia beserta keluarganya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, ia memilih bertempat tinggal di Magelang,tepatnya di Perum Pondok Rejo Asri Jln. Indrakila 1 no. 216 , Danurejo, Mertoyudan ,Magelang. Sekarang beliau bekerja di SMA Negeri 1 Mertoyudan, sebagai guru Bahasa Indonesia. Sedangkan suaminya bekerja di SMA Negeri 5 Magelang sebagai guru fisika. Ia sangat bahagia dengan kehidupannya bersama keluarganya.  

Sabtu, 15 Oktober 2016



Begarlist Volley Cup Smada
           
Magelang, Senin ( 3/10/2016 ) Smada menggelar even Bergarlist Volley Cup. Acara yang akan digelar dalam rangka hari ulang tahun ( HUT ) Smada diikuti oleha pelajar SMp/MTs se- Kota dan Kabupaten Magelang.
            Acara Begarlist Volley Cup diawali dengan upacara pembukaan yang diikuti oleh peserta lomba, anggota OSIS, dan para wasit. Upacara tersebut dipimpin oleh Drs. Arief Fauzan , selaku Kepala SMA Negeri 2 Magelang. Jalannya pertandingan dimulai pukul 15.00 WIB sampai selesai. Dalam perlombaan tersebut diikuti oleh empat sekolah, yaitu SMPN 8 Magelang, SMPN 13 Magelang, SMPN 12 Magelang, dan SMPN Candimulyo. Lapangan utama terbagi menjadi dua bagian, yaitu lapangan A dan lapangan B. Dua tim bertanding di sebelah kanan, dan dua tinm bertanding di sebelah kiri. Kedua pasang tim ermain secara bersamaan untuk mempersingkat waktu. Di lapangan A yang bertanding adalah SMPN 8 Magelang melawan SMPN 12 Magelang, sedangkan di lapangan B yang bertanding adalah tim dari SMPN 13 Magelang melawan SMPN Candimulyo.
            Pertandingan berlangsung dengan meriah dan semangat. Banyak pendukung dari masing – masing tim yang datang untuk memberi semangat tim jagoannya. Pada pertandingan pertama di lapangan A, tim dari SMPN 8 Magelang memperoleh poin lebih unggul dari tim SMPN 12 Magelang. Pada akhir pertandingan di pertandingan pertama dimenangkan oleh SMPN 8 Magelang. Kemudian disusul pertandingan kedua di lapangan B pada pukul 16.30 WIB yang diikuti oleh tim dari SMPN 13 Magelang melawan SMPN Candimulyo. “ pertandingan antara SMPN 13 Magelang dengan SMPN Candimulyo berlangsung cukup sengit dengan poin yang saling mengejar satu sama lain”, ujar Irkham selaku ketua panitia lomba voli. Pertandingan kedua ini dimenangkan oleh SMPN 13 Magelang.
            Pertandingan pada hari Senin ini mendapatkan dua pemenang baru , yaitu SMPN 8 Magelang dan SMPN 13 Magelang. Kedua tim tersebut akan bertanding lagi pada hari Kamis ( 06/10/2016 ). Sebelum acara selesai, Ilham Zaidan selaku ketua OSIS mengucapkan terma kasih kepada seluruh tim yang telah berpartisipasi dalam perlombaan. Akhirnya, perlombaan pertama dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.