Om Telolet Om
Karya : Regina Dyah Saraswati
Akhir
tahun 2016 dihebohkan dengan fenomena “ Om Telolet Om “ yang berasal dari bunyi
klakson sebuah bis yang cukup unik dan menghibur para pendengarnya. Dari anak- anak
hingga orang tua mengenal istilah tersebut. Fenomena tersebut menjadi viral di
berbagai kalangan bahkan hingga dunia internasional mengetahuinya. Disepanjang
jalan banyak anak-anak menggunakan papan, kertas, bahkan spanduk bertuliskan
“Om Telolet Om“. Saat ada bis pariwisata lewat dan membunyikan klaksonnnya
mereka bersorak- sorai. Demam “ Om Telolet Om “ juga menjalar ke anak- anak
Desa Bandongan, Magelang.
Teriknya matahari menyinari sepanjang
Desa Bandongan yang hampir tak merasakan dinginnya udara. Aktivia masyarakat
Desa Bandongan tetap berjalan seperti biasanya dengan peluh dimana-mana dan
kulit yang semakin tampak menghitam. Seorang ibu yang akrab dipanggil Bu Janah
sibuk menyapu halaman rumahnya tampak semangat tanpa menghiraukan panasnya
sinar matahari.
“ Sri , tolong bantuin ibu mencabut
rumput liar ini ! “ perintah Bu Janah kepada anak sulungnya.
“ Iya bu, “ jawab Sri dari dalam rumah.
Selesai membersihkan rumah sederhana
mereka, Sri pergi keluar untuk membantu ibunya. Panasnya sinar matahari semakin
menjadi- jadi terlihat dari baju ibunya yang basah karena keringat.
“ Panas sekali Bu hari ini, apa ibu
tidak merasa panas dan lelah masih membersihkan halaman sampai siang begini? “
“ Ya panas to nduk . Habisnya mau bagaimana lagi halaman rumah kita sudah
ditutupi oleh rumput- rumput ini. Apa kamu mau rumah kita yang sudah jelek ini
semakin terlihat jelek?” keluh Bu Janah kepada anaknya itu.
Akhirya mereka selesai membersihkan
halaman. Bu Janah tampak sangat lelah dan ia pun beristirahat di bangku bawah
pohon mangga. Sri membawakan minum untuk ibunya dan beberapa camilan agar
ibunya terasa segar kembali.
“Makasih Nak, ini terasa sangat segar
sekali, “ ucap Bu Janah.
“ Iya Bu sama-sama,” jawab Sri.
“ Sri Masmu mana, kok dari tadi tidak
kelihatan? “
“ Oh Mas Didin, dia tadi bilangnya mau main di rumah
Pak Ahmad sama si Jainal .”
“ Welah, Masmu itu sukanya kok
keluyuran. Tidak tau apa kita capek-capek bersih – bersih rumah , tidak
membantu malah main saja dipikirannya,” keluh Bu Janah terhadap perlakuan anak
sulungnya itu.
Tidak terasa hari semakin sore, Didin
belum juga pulang. Ia keasikan bermain gerobak sodor dengan teman – temannya.
Bu Janah yang mengkhawatirkan anaknya itu, akhirnya menyusul Didin ke rumah Pak
Ahmad.
“ Didin ayo pulang !!!!! Sudah mau mahgrib
kok masih saja betah main,” teriak Bu Janah.
“ Sebentar lagi Bu, ini sudah mau menang
mainnya,” bantah Didin.
“ Sudah tidak usah banyak alasan ! Mbok yo liburan itu diisi dengan
kegiatan yang bermanfaat seperti mengaji ,sholat di masjid, dan bantu – bantu
bersih bersih rumah ! “ tegas Bu Janah.
Sementara itu Sri sedang
mempersiapkan makanan untuk mereka. Bu Janah ikut membantu Sri memasak. Mereka
sedang memasak salah satu makanan khas Magelang kesukaan mereka, yaitu nasi
goreng magelangan dan gethuk. Akhirnya makanan pun siap dan mereka makan
bersama – sama.
Selesai makan Bu Janah dan Sri
menemani Didin yang sedang menonton televisi. Disaat yang sama semua siaran
telvisi menayangkan tentang fenomena om telolet om. Didin pun diam – diam ingin
merasakan kebahagiaan saat mendengar
klakson bus.
Pagi- pagi buta Didin sudah bersiap-
siap dengan membawa sebuah kertas karton besar bertuliskan om telolet om. Dia
dan teman-temannya sudah janjian untuk mempraktikkan hal tersebut di jalan
sekitaran Borobudur, karena banyak bus pariwisata yang lewat jalan tersebut.
Pulang dari pasar Bu Janah bertanya kepada putrinya itu tentang keberadaan
Didin yang dari tadi pagi tidak kelihatan batang hidungnya.
“ Sri, Didin ke mana, sudah sejak
pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” tanya Bu Janah.
“ Mas Didin pergi bersama teman- temannya
ke pinggir jalan raya dekat Kota Mungkid Bu. Katanya mau telolet , Bu,” jawab
Sri.
“ O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha , mbok baca sholawat di rumah bisa
untuk sangu akhirat,” keluh Bu Janah.
Akhirnya Didin pun pulang ke rumah
dengan wajah penuh kebahagiaan. Ia masuk kerumah tanpa menyadari kalau ibunya
sudah menunggunya dengan muka penuh kecemasan karena sikap anaknya yang nakal
itu.
“ Kamu dari mana le? Kok baru pulang, gak ingat rumah
ya,” sindir Bu Janah.
“ Saya habis main Bu di jalan, saya
sama teman-teman main telolet Bu. Tadi saya sudah pamit sama Sri, “ jawab Didin
dengan santai.
“ Bukannya begitu, mbok yo kamu itu sekali-kali gak usah
main yang aneh – aneh to. Diem di
rumh mengaji, bantu – bantu ibu, atau balajar. Kan kamu sudah besar mbok yo jadi contoh buat adikmu itu,”
ucap Bu Janah.
“ Ibu tu kenapa sih sukanya banding-
bandingin saya sama Sri, dia kan anak perempuan sudah sepantasnya dirumah
bantu- bantu ibu. Lha, saya kan laki-laki bu, tidak masalah kalau saya main
dengan teman- teman saya. Kalau saya dirumah nanti saya dikira banci,” jawab
Didin dengan nada kemarahan.
“ Kok kamu malah ngejawab sih le, ibu kan cuman menasihati kamu yang
terbaik. Emang kalomengaji atau sembayang memandang jenis kelamin seseorang?
Kamu tu gak mikir apa kalu kita khawatir sama keselamatan kamu? Kamu tu sukanya
main yang bahaya- bahaya. Buat apa kamu main di jalan raya, ikut – ikutan telolet
segala, itu kan tidak penting malah bikin kamu celaka nantinya.” ucap Bu Janah
panjang lebar dengan nada kekesalan.
“ Ibu itu selalu pilih kasih, tidak
pernah sedikit pun mengerti aku, selalu saja belain Sri. Ibu selalu saja marah-
marah sama aku, setiap aku main Ibu selalu bilang inilah itulah yang notabennya
aku kalau main itu tidak ada manfaatnya. Kalau tau pulang – pulang jadi begini
cuman bikin emosi, mendingan aku pergi saja dan bermain di jalan dengan teman-
teman.” teriak Didin.
Akhirnya Didin pun pergi
meninggalkan Ibunya yang menangis mendengarkan ucapan anaknya itu. Bu Janah
tidak bermaksud untuk memarahi Didin, ia hanya khawatir dengan keselamatan
putranya. Akan tetapi malah mereka beradu
mulut dan menyebabkan Didin pergi dari rumah dengan penuh kemarahan
dengan Ibunya.
Masih dengan perasaan bersalah
kepada putranya, Bu Janah hendak mencari didin ke tempat ia bermain telolet.
Namun saat hendak keluar rumah Pak Ahmad berlari menuju rumahnya dengan muka
penuh kepanikan. Pak Ahmad memberitahukan kepada Bu Jah bahwa Didin mengalami
kecelakaan saat bermain di pinggir jalan, saat ini Didin sudah berada di Rumah
Sakit Harapan. Bu Janah kaget mendengar hal tersebut, ia tak kuasa menahan
tangis. Baru saja ia berantem dengan anaknya dan ingin meminta maaf malah
mendengar berita mengejutkan tersebut.
Bu Janah yang diantar oleh Pak Ahmad
ke Rumah Sakit Harapan untuk menemui anaknya itu. Sesampainya disana tangis Bu
Janah semakin kencang melihat anaknya terbujur kaku di ranjang rumah sakit
dengan penuh luka.
Dokter tersebut memberitahukan Bu
Janah bahwa Didin mengalami pendaharan di otak dan mengalami koma saat ini.
Selain itu hal yang paling mengejutkan yang hanya dapat menyelamatkan Didin
adalah keajaiban dari Tuhan.
Saat dokter menjelaskan kondisi Didin,
suster memanggil dokter bahwa kondisi Didin menurun. Langsung saja dokter
berlari bersama Bu Janah ke ruangan Didin. Layar pendeteksi jantung menunjukkan
garis lurus. Langsung saja Bu Janah pingsan melihat hal itu. Ia tidak menyangka
anak yang disayanginya pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Ia menyesal
karena belum sempat meminta maaf dengan Didin soal pertengkaran tadi dirumah.
Hati Bu Janah sungguh sakit dan tidak dapat
melakukan apa – apa saat mayat anaknya dibawa ambulans menuju rumahnya untuk
dimakamkan. Sri pun ikut menangis di samping ibunya melihat mayat kakaknya itu.
Semua warga Bandongan berdatangan untuk melayat.
Setelah kejadian yang menimpa Didin, tidak ada lagi
anak-anak Desa Bandongan yang bermain telolet di jalan raya, karena masih
trauma dengan kecelakaan yang menimpa Didin. Mereka akhirnya lebih waspada saat
bermain agar kejadian tersebut tidak terulang kembali.